KKP Bantah Fumigasi Oleh Koperasi, Hanya 15% Saja

KKP Bantah Fumigasi Oleh Koperasi, Hanya 15% Saja

Koperasi Karya Bakti (Karantina Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok) membantah kecuali selama ini mendominasi pekerjaan fumigasi atau desinseksi kapal di pelabuhan Priok.

“Kami cuma mengerjakan kira-kira 15% dari keseluruhan kapal yang difumigasi di sini (pelabuhan Priok). Pada tahun 2020 lalu, kita cuma mengatasi 35 kapal,” kata I Nyoman Putra, Ketua Koperasi Karya Bakti kepada Ocean Week, di kantornya.

 

Berdasarkan knowledge yang diperoleh dari Kantor Karantina Kesehatan Tanjung Priok, pada tahun 2020, tercatat 200 kapal yang dilaksanakan fumigasi atau desinseksi.

Menurut Nyoman, tersedia 8 Badan Usaha Swasta (BUS) yang diperbolehkan lakukan tindakan disinseksi di pelabuhan Tanjung Priok, yakni PT Pisbo Jaya, PT Sarana Gama Sejahtera, PT Kalanta Jaya Abadi, PT Palapa Bumi Serasi, PT Eka Energi, PT Sucopindo, CV Dwi Akbar, dan Koperasi Karya Bakti.

 

Mengenai cost desinseksi, ungkap Nyoman, sudah berdasarkan kesepakatan pada BUS. Adapun tarifnya yaitu, golongan I volume 0-500 m3 Rp 10.500.000. Golongan II 501-1000 m3 Rp 7.425.000, golongan III 1001-2500 m3 Rp 6.562.000.

Lalu untuk 25001-35000 M3 Rp 10.125.000, dan volume kapal 35001-keatas M3 Rp 10.500.000.

 

Biaya fumigasi untuk tiap-tiap volume ruangan adalah, di dermaga Rp 8.000/M3, diluar dermaga Rp 9.500/M3. Jika fumigasi dilaksanakan pada hari libur dan Offshore dilengkapi jasa 15%.

Sedangkan pelaksanaan fumigasi mengacu pada UU no. 1 tahun 1962 perihal karantina laut, Permenkes no. 356 tahun 2008 perihal organisasi dan tata kerja KKP, dan internal health regulation 2005.

 

“Untuk tarif dasar Rp 6000/M3 itu disepakati dari tahun 2016 oleh BUS yang diketahui INSA Jakarta,” ujar Nyoman, didampingi Brata, keliru satu pimpinan di KKP Tanjung Priok.

Jadi, kata Brata menambahkan, masalah siapa pelaku fumigasi ini sudah diketahui oleh semua agen pelayaran, baik melalui pertemuan yang dihadiri beraneka lembaga pemerintah maupun swasta atau disampaikan secara informal dari orang ke orang.

 

Bahkan capt. Supriyanto (sekretaris INSA Jaya) terhitung sudah dulu diberitakan perihal hal itu.

Seperti diketahui sebelumnya, Ocean Week menginformasikan perihal mahalnya cost fumigasi kapal atau desinseksi.

Misalnya perihal yang menimpa kapal MV. Venus Leader dan kapal MV. Procyon Leader beberapaa saat lalu.

 

Untuk cost desinseksi ke dua kapal itu, prinsipal harus membayar Rp. 168.000.000 atau 12 ribu dolar AS, karena per kapal dikenai cost Rp. 84 juta.

Kejadian tersebut, sebabkan pihak prinsipal mengadukan ke INSA Jaya untuk bisa membahasnya dengan pihak-pihak terkait, terlebih Otoritas Pelabuhan (OP).

 

“Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok harus tau soal ini. Hal ini terlalu memberatkan pelayaran. OP harus melakukan tindakan segera mendiskusikan dengan para pihak,” kata Capt. Supriyanto, Sekretaris DPC INSA Jaya kepada Ocean Week, di kantornya, Kamis sore.

Data yang diperoleh Ocean Week, mengatakan bahwa rincian tagihan dari Koperasi Karya Bakti untuk kapal MV. Venus Leader dengan keseluruhan Rp. 84.000.000 dengan rincian GT 42.160 x 2.83 = 119.312.80 M3 = Rp. 10.500.000, selanjutnya ruang di pest control 12.083.333 M3 x 6.000 = Rp. 72.000.000, dilengkapi PNBP Rp. 1.000.000.

 

Kemudian untuk kapal MV. Procyon Leader dengan GT 53.645 x 2,83 = 151.815.35 M3 = Rp. 10.500.000, ruang di desinseksi Rp. 72.000.000 plus PNBP Rp. 1000.000, keseluruhan Rp. 84.000.000.

Capt. Supriyanto menilai cost ini terlalu besar dan memadai membebani pelayaran. Apalagi pelayaran tak bisa berbuat banyak tak sekedar cuma terima cost yang ditagihkan.

 

“Kami minta supaya hal ini diketahui OP untuk membicarakannya dengan para pihak,” ujarnya.

Sementara itu, informasi yang diperoleh Ocean Week tunjukkan kecuali pihak oknum keagenan terhitung turut bermain dalam hal ini. “Oknum agen terhitung turut bermain, kecuali tersedia tagihan cost fumigasi hingga Rp. 80 jutaan, paling tidak Rp. 10 juta oknum agen bisa itu,” ungkap keliru satu sumber yang tak sudi disebut namanya.